Google+ Badge

Kamis, 22 Desember 2011

Bibit Langsep Asli Singosari


Bibit Buah Langsep Singosari

Species identity
Taxonomy
Current name: Lansium domesticum
Authority: Corr.
Family: Meliaceae
Synonym(s)
Aglaia dookoo Griffith
Common names
(Burmese) : duku, langsak
(English) : duku, Langsat
(Filipino) : buahan, lansone, lansones, lanzon, lanzone
(Indonesian) : duku, kokosan, Langsep
(Malay) : langseh, langsep, lansa
(Thai) : duku, langsat, longkong
(Vietnamese) : Bòn-bon

Bibit buah langsep asli dari Singosari Malang dijual dengan harga Rp 35.000,- per batang dengan ukuran sekitar 40-60 cm. Bibit ini siap tanam, baik itu ditanam di pekarangan/halaman rumah maupun di ladang. Jika berminat silahkan hub. Hariasih HP 0852 3545 2881.

Langsep (L. domesticum var. domesticum) kebanyakan memiliki pohon yang lebih kurus, berdaun kurang lebat yang berwarna hijau tua, dengan percabangan tegak. Tandan buahnya panjang, padat berisi 15–25 butir buah yang berbentuk bulat telur dan besar-besar. Buah Langsep berkulit tipis dan selalu bergetah (putih) sekalipun telah masak. Daging buahnya banyak berair, rasanya masam manis dan menyegarkan. Langsep bukanlah buah yang bisa bertahan lama setelah dipetik. Dalam tiga hari setelah  dipetik, kulit Langsep akan menghitam sekalipun itu tidak merusak rasa manisnya. Hanya saja tampilannya menjadi tidak menarik. Langsep umumnya dikenal secara lebih terbatas dan lokal. Beberapa kultivar yang populer, di antaranya adalah langsep singosari dari Malang,langsat tanjung dari Kalsel,langsat punggur dari Kalbar, dan sebagainya. Dari Thailand dikenal langsat uttaradit, dan dari Luzon, Filipina, dikenal langsat paete.
Manfaat
Langsep terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan.
Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji Langsep yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam.
Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria; sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, di Filipina biasa dibakar sebagai pengusir nyamuk. Kulit buah Langsep terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.
Ekologi
Sebagai tanaman bertajuk menengah, Langsep tumbuh baik dalam kebun-kebun campuran (wanatani). Tanaman ini, terutama varietas Langsep, menyukai tempat-tempat yang ternaung dan lembab. Di daerah-daerah produksinya, Langsep biasa ditanam bercampur dengan durian, petai, jengkol, serta aneka tanaman buah dan kayu-kayuan lainnya, meski umumnya duku yang mendominasi.
Langsep biasa ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl., di wilayah dengan curah hujan antara 1.500-2.500 mm per tahun. Tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah baik pada berbagai jenis tanah, terutama tipe tanah latosol, podsolik kuning, dan aluvial. Langsep lebih tahan terhadap perubahan musim, dan dapat menenggang musim kemarau asalkan cukup ternaungi dan mendapatkan air.
Langsep umumnya berbuah sekali dalam setahun, sehingga dikenal adanya musim buah Langsep. Musim ini dapat berlainan antar daerah, namun umumnya terjadi di sekitar awal musim hujan.

Penyebaran dan nama-nama lokalWilayah asal-usul duku membentang dari sekitar Semenanjung Siam di barat hingga Kalimantan di timur, termasuk pula Filipina. Di daerah-daerah itu, duku ditanam sebagai
salah satu buah-buahan yang penting. Bahkan varietas-varietas liar atau yang meliar dapat dijumpai di alam. Kini duku juga dibudidayakan, walau tidak besar, di
Vietnam, Burma, Srilanka, India, Australia, Hawaii, Suriname, dan Puerto Rico.
Duku dikenal dengan banyak nama, seperti langsat, langseh, langsep, lansa (Mal.); lansones, lanzone, lanzon, dan buahan, (Fil.); langsad, longkong (Thailand); lòn bon dan bòn bon (Vietnam); langsak, duku (Burma); serta gadu guda (Srilanka). Dalam bahasa Inggris juga disebut sebagai langsat dan duku.
Di Indonesia sendiri duku disebut dengan berbagai nama, yang mirip maupun yang tidak. Misalnya langsat (umum); lansat, lancat (Aceh dan Sumut); lasé (Nias); langsék (Min.); langsak, lasak, rarsak, rasak (Lampung); lansét, lasat, losot, léhat, lihat, rihat, richat (Kal.); lansa, lasat, lasot, lansot, dansot, ranso, lantat (Sulut); lansa, lasa, lasé, lésé (Sulsel); lasat, lasaté, lasété, nasaté, lasato, lalasat, lasa (Maluku) dan sejenisnya. Serta langsat, langsep dan duku, dukuh (Jw., Sd.); kokosan, pisitan, bijitan (Sd.); pijetan, celuring (Jw.); celoréng (Md.; celoring, ceroring (Bali); dan lain-lain.