Google+ Badge

Rabu, 11 Mei 2011

Cara Buat Pakan Gurami Murah

Dewasa ini harga pakan terus melonjak, untuk itu harus dapat menekan biaya produksi budidaya gurami.
Tingginya harga pakan pabrikan di Tulungagung dan sekitarnya (Jawa Timur) yang melampaui Rp5.000/kg terasa  memberatkan petani gurami di wilayah tersebut. Untuk mendapatkan satu kilogram gurami yang dipelihara selama 4—5 bulan, diperlukan sekitar 1,5 kg pakan komersial plus tambahan pakan hijauan, seperti kangkung dan daun sente (talas). Jika harga benih Rp5.000/ekor, maka titik impas produksi gurami adalah Rp12.500/kg. Di sisi lain, harga benih gurami untuk pembesaran (ukuran 3—4 ekor/kg) di Tulungagung  mencapai Rp15.500/kg. Padahal harga gurami konsumsi hanya Rp15.500/kg. Praktis keuntungan kotor petani hanya Rp3.000/kg.

Kulit dan Menir Kedelai
Mencari terobosan agar terbebas dari ketergantungannya kepada pakan komersial. Maka, ada kemiripan sifat makan gurami dan sapi, yaitu sesama pemakan tumbuhan. Dari sinilah timbul ide untuk membuat pellet dari kulit kedelai sekaligus menirnya (pecahan biji kedelai berukuran kecil).
Menir berasal dari sisa mekanisasi pengambilan biji utuh kedelai untuk konsumsi manusia.  Sapi yang diberi kleci (kulit kedelai) ternyata membuat cepat besar, untuk itu dicari formulasi pakan yang tepat berbasis kulit dan menir kedelai.


Bahan lain yang digunakan untuk membuat pakan gurami cukup murah, meliputi :


  1. bekatul (dedak halus),
  2. tepung ikan,
  3. tepung gaplek untuk hewan,  dan
  4. urea.
Semua bahan dibuat menjadi dua adonan.
  1. Adonan pertama terdiri dari 5,5 kg kulit kedelai, 700 gram menir kedelai, dan satu sendok makan penuh urea yang dilarutkan dalam air.
  2. Adonan kedua terdiri dari 4,5 kg bekatul, 1 kg tepung ikan, dan 2 kg tepung gaplek.
Setelah diaduk merata, adonan kedua pertama dicampur hingga merata, lalu dikukus sampai matang. Selanjutnya, masukkan adonan ke dalam mesin pembentuk pellet sederhana, layaknya pembuatan mi.
Pakan tersebut bisa langsung diberikan dalam keadaan basah atau disimpan dalam kondisi kering setelah dijemur di bawah sinar matahari selama satu hari. Pellet ini tahan disimpan hingga beberapa minggu.
Pakan yang diberikan dalam keadaan basah, beratnya dua kali  pakan kering. “Untuk kolam dengan 8.000 ekor atau panen sekitar 4 ton, setiap hari kita beri 60 kg pellet kering. Atau kalau pellet basah, berarti 120 kg. Pakan diberikan dua kali yang ditempatkan dalam kotak berukuran 2 m x 1 m.
Bagian tepi tersebut diberi pembatas setinggi 10 cm supaya pakan tidak tumpah dan tercampur lumpur. Kotak ini kemudian dibenamkan sedalam 60 cm di bawah permukaan air kolam. Agar tidak terjadi perebutan makanan, jumlah kotak harus disesuaikan dengan populasi gurami yang ditebar.

Pellet kulit kedelai tidak mencemari air sehingga gurami terhindar dari penyakit. Dari heneguya (Aeromonas sp.) sampai jamur tidak kena. Padahal biasanya musim begini (Mei) lagi marak. Air juga tidak pernah diganti.

Harga per kilogram pakan pellet ini juga tergolong murah, Rp2.200/kg.  Dengan demikian titik impas biaya produksi bisa ditekan sampai Rp3.000/kg sehingga keuntungan petani pun meningkat. Sebagai gambaran, harga bahan baku pakan di Tulungagung pada Mei 2007, sebagai berikut: tepung gaplek Rp900/kg, bekatul Rp700/kg, kulit kedelai Rp1.550/kg, menir kedelai Rp1.550/kg, dan tepung ikan Rp3.500/kg.